Biografi
Asrul Sani
Asrul Sani lahir
di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat, pada tanggal 10 Juni 1926
dan meninggal di Jakarta, pada tahun 2004
Asrul Sani berasal
dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar “Sultan
Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti RaoMapat”. Meski membenci
Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik bergengsi dari
Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat itu, apalagi di
daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati
karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya-karya terkenal dari
Schubert.
Ibunya adalah
seorang wanita yang sederhana, namun sangat memperhatikan pendidikannya. Sejak
kecil ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku-buku cerita ternama. Ibunya selalu
membacakan buku-buku tersebut untuknya. Oleh karena itu, sekali lagi, ia patut
berbangga hati karena sebelum pandai membaca, ia sudah mendengar cerita Surat
Kepada Raja karya Tagore.
Inilah gambaran
Asrul muda di mata Pramoedya Ananta Toer:
Seorang pemuda
langsing, gagah, ganteng, berhidung mancung bersikap aristokrat
tulen…Tinggalnya di jalan Gondangdia Lama. Mendengar nama jalan ini saja, kami
pribumi kampung yang lain, mau tak mau terpaksa angkat pandang menatap
wajahnya. Di Gondangdia Lama hanya ada gedung-gedung besar, megah, dan mewah.
Akan tetapi, kami pun punya kebanggaan “penerbitan kami”. Begitulah, pada suatu
kali kami undang dia datang menghadiri diskusi sastra. “Penerbitan” kebanggaan
kami, kami perlihatkan kepadanya. Dia baca pendapat redaksi tentang sajak-sajak
peserta. Tentunya, kami ingin tahu pendapatnya, dan sudah tentu juga
perhatiannya. Ternyata pendapat dan perhatiannya tepat sebaliknya daripada yang
kami harapkan. Aku masih ingat kata-katanya: “Tahu apa orang-orang ini tentang
sajak?” Dan, kami pun sadar, sesungguhnya kami tidak tahu. Tapi itu tidaklah
begitu mengejutkan dibanding dengan kata-katanya yang lain: “Tahu apa
orang-orang ini tentang Keats dan Shelley! Bukan hanya kami yang baru dengar
kata-kata aneh itu, juga Victor Hugo-nya Sanjaya menjadi gagu kehilangan lidah!
Pemuda berpeci
merah tebal itu adalah asrul Sani . Dan “penerbitan” kamipun mati kehabisan
darah kebakaran semangant.
Asrul memulai
pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada
tahun 1936. Lalu, ia masuk ke SMP Taman Siswa, Jakarta (1942), Sekolah
Kedokteran Hewan, Bogor (194.). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955.
Jadi, ia adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, gelar bergengsi itu tidak
dapat mengalihkan perhatiannya dari dunia seni (sastra, teater, dan film).
Bahkan, di sela-sela kuliahnya, ia masih sempat belajar drama di akademi seni
drama di Amsterdam (bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).
Asrul Sani bisa
memuji secara habis, selamanya disediakan tempat yang lebih tinggi bagi
dirinya. (M. Balfas dalamHutagalung)g
Di dalam dunia
sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya
sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin
menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan
puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan
beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan
“Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka.
Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.
Sebagai sastrawan,
Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis
cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz” dimasukkan
oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan dramanya ,Mahkamah,
mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai
penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya
esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).
Sejak tahun
1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia
film. Ia mementaskan “Pintu Tertutup” karya Jean-Paul Sartre, “Burung Camar”
karya Anton P. Chekov, dll. Ia menulis skenario film “Lewat Jam Malam (mendapat
penghargaan dari FFI, 1955), “Apa yang Kau Cari Palupi?” (mendapat Golden
Harvest pada Festival Film Asia, 1971), “Kemelut Hidup” (mendapat Piala Citra
1979),dll. Ia juga menyutradarai film “Salah Asuhan” (1972), “Jembatan Merah”
(1973), Bulan di atas Kuburan (1973), dll.
Banyak sekali
pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya dan berbagai bidang pula.
Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur majalah
(Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith). Ketua Dewan Kesenian Jakarta
(1977—1987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim (Lesbumi), Anggota Badan
Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama, Anggota DPR-MPR (1966—1983), dll.
Dalam perjalanan
hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama, ia menikahi Siti
Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan
bercerai pada tahun 1961). Yang kedua, ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahu
lebih muda darinya, pada tanggal 29 desember 1972. Dari pernikahannya yang
pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang kedua
Asrul dikaruniai tiga anak laki-laki
Pada masa akhir
hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia mendampinginya. Asrul yang
mulai renta dan sudah harus duduk di kursi roda tidak menghalangi keduanya
untuk tampil di depan umum dengan mesra. Ketika menghadiri acara pelantikan
Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung Mutiara) menjadi guru besar
di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi
Asrul di atas kursi rodanya. Makanan dan minuman yang sesekali meluncur dari
bibir dan mengotori dagunya, dilap oleh Mutiara dengan lembut.
Karya-Karya Asrul
Sani :
ASTANA RELA
Tiada bersua dalam
dunia
tiada mengapa
hatiku sayang
tiada dunia tempat
selama
layangkan angan
meninggi awan
Jangan percaya
hembusan cedera
berkata tiada
hanya dunia
tilikkan tajam
mata kepala
sungkumkan sujud
hati sanubari
Mula segala tiada
ada
pertengahan masa
kita bersua
ketika tiga
bercerai ramai
di waktu tertentu
berpandang terang
Kalau kekasihmu
hasratkan dikau
restu sempana
memangku daku
tiba masa kita
berdua
berkaca bahagia di
air mengalir
Bersama kita
mematah buah
sempana kerja di muka
dunia
bunga cerca melayu
lipu
hanya bahagia
tersenyum harum
Di situ baru kita
berdua
sama merasa, sama
membaca
tulisan cuaca
rangkaian mutiara
di mahkota gapura
astana rela.
HARI MENUAI
Lamanya sudah
tiada bertemu
tiada kedengaran
suatu apa
tiada tempat duduk
bertanya
tiada teman kawan
berberita
Lipu aku diharu
sendu
samar sapur cuaca
mata
sesak sempit
gelanggang dada
senak terhentak
raga kecewa
Hibuk mengamuk
hati tergari
melolong meraung
menyentak rentak
membuang
merangsang segala petua
tiada percaya pada
siapa
Kutilik diriku
kuselam tahunku
timbul terasa
terpancar terang
istiwa lama
merekah terang
merona rawan
membunga sedan
Tahu aku
kini hari menuai
api
mengetam ancam
membelam redam
ditulis dilukis
jari tanganku.
SUBUH
Kalau subuh kedengaran
tabuh
semua sepi sunyi
sekali
bulan seorang
tertawa terang
bintang mutiara
bermain cahaya
Terjaga aku
tersentak duduk
terdengar irama
panggilan jaya
naik gembira
meremang roma
terlihat panji
terkibar di muka
Seketika teralpa;
masuk bisik
hembusan setan
meredakan darah
debur gemuruh
menjatuhkan
kelopak mata terbuka
Terbaring badanku
tiada berkuasa
tertutup mataku
berat semata
terbuka layar
gelanggang angan
terulik hatiku di
dalam kelam
Tetapi hatiku,
hatiku kecil
tiada terlayang di
awang dendang
menanggis ia
bersuara seni
ibakan panji tiada
terdiri.
INSAF
Segala kupinta
tiada kauberi
segala kutanya
tiada kausahuti
butalah aku
terdiri sendiri
penuntun tiada
memimpin jari
Maju mundur tiada
terdaya
sempit bumi dunia
raya
runtuh ripuk
astana cuaca
kureka gembira di
lapangan dada
Buta tuli bisu
kelu
tertahan aku di
muka dewala
tertegun aku di
jalan buntu
tertebas putus
sutera sempana
Besar benar salah
arahku
hampir tertahan
tumpah berkahmu
hampir tertutup
pintu restu
gapura rahsia
jalan bertemu
Insaf diriku dera
durhaka
gugur tersungkur
merenang mata;
samar terdengar
suwara suwarni
sapur melipur
merindu temu.
Insaf aku
bukan ini
perbuatan kekasihku
tiada mungkin reka
tangannya
kerana cinta tiada
mendera
IBUKU DEHULU
Ibuku dehulu marah
padaku
diam ia tiada
berkata
akupun lalu
merajuk pilu
tiada peduli apa
terjadi
matanya terus
mengawas daku
walaupun bibirnya
tiada bergerak
mukanya masam
menahan sedan
hatinya pedih
kerana lakuku
HTerus aku
berkesal hati
menurutkan setan,
mengkacau-balau
jurang celaka
terpandang di muka
kusongsong juga -
biar chedera
Bangkit ibu
dipegangnya aku
dirangkumnya
segera dikucupnya serta
dahiku berapi
pancaran neraka
sejuk sentosa
turun ke kalbu
Demikian engkau;
ibu, bapa, kekasih
pula
berpadu satu dalam
dirimu
mengawas daku
dalam dunia.
DI DALAM KELAM
Kembali lagi
marak-semarak
jilat melonjak api
penyuci
dalam hatiku
tumbuh jahanam
terbuka neraka di
lapangan swarga
Api melambai
melengkung lurus
merunta ria
melidah belah
menghangus debu
mengitam belam
buah tenaga bunga
suwarga
Hati firdausi
segera sentosa
Murtad merentak
melaut topan
Naik kabut
mengarang awan
menghalang cuaca
nokta utama
Berjalan aku di
dalam kelam
terus lurus moal
berhenti
jantung dilebur
dalam jahanam
kerongkong hangus
kering peteri.
Meminta aku
kekasihku sayang;
turunkan hujan
embun rahmatmu
biar padam api
membelam
semoga pulih pokok
percayaku.
BATU BELAH
Dalam rimba rumah
sebuah
teratak bambu
terlampau tua
angin menyusup di
lubang tepas
bergulung naik di
sudut sunyi.
Kayu tua membetul
tinggi
membukak puncak
jauh di atas
bagai perarakan
melintas negeri
payung menaung
jemala raja
ibu bapa beranak
seorang
manja bena
terada-ada
plagu lagak tiada
disangkak
mana tempat ibu
meminta
Telur kemahang
minta carikan
untuk lauk di nasi
sejuk
Tiada sayang;
dalam rimba telur
kemahang
mana daya ibu
mencari
mana tempat ibu
meminta.
Anak lasak
mengisak panjang
menyabak merunta
mengguling diri
kasihan ibu
berhancur hati
lemah jiwa kerana
cinta
Dengar.........dengar
!
dari jauh suara
sayup
mengalun sampai memecah
sepi
menyata rupa
mengasing kata
Rang... rang...
rangkup
Rang... rang...
rangkup
batu belah batu
bertangkup
ngeri berbunyi
berganda kali.
Diam ibu berfikir
panjang
lupa anak menangis
hampir
kalau begini
susahnya hidup
biar ditelan batu
bertangkup
Kembali pada suara
bergelora
bagai ombak datang
menampar
macam sorak
semarai ramai
kerana ada hati
berbimbang
menyahut ibu
sambil tersedu
melagu langsing
suara susah;
Batu belah batu
bertangkup
batu tepian tempat
mandi
Insha Allah
tiadaku takut
sudah demikian
kuperbuat janji
Bangkit bonda
bewrjalan pelan
tangis anak
bertambah kuat
rasa risau
bermaharajalela
mengangkat kaki
melangkah cepat.
Jauh ibu lenyap di
mata
timbul takut di
hati kecil
gelombang bimbang
mengharu fikir
berkata jiwa
menanya bonda
lekas pantas
memburu ibu
sambil tersedu
rindu berseru
dari sisi suara
sampai
suara raya batu
bertangkup
Lompat ibu ke
mulut batu
besar terbuka
menunggu mangsa
tutup terkatup
mulut ternganga
berderak-derik
tulang belulang
Terbuka pula,
merah basah
mulut maut
menunggu mangsa
lapar lebar
tercingah pangah
meraung riang
mengecap sedap..
Tiba dara kecil
sendu
menangis mencari
ibu
terlihat cerah
darah merah
mengerti hati
bonda tiada.
Melompat dara
kecil sendu
menurut hati
menaruh rindu...
Batu belah, batu
bertangkup
batu tepian tempat
mandi
Insha Allah
tiadaku takut
sudah demikian
kuperbuat janji.
TURUN KEMBALI
Kalau aku dalam
engkau
dan kau dalam aku
adakah begini
jadinya
jaku hamba engkau
penghulu ?
Aku dan engkau
berlainan
engkau raja, maha
raya
cahaya halus
tinggi mengawang
pohon rindang
menaung dunia.
Di bawah teduh
engkau kembangkan
taku berdiri
memati hari
pada bayang engkau
mainkan
aku melipur
meriang hati
Diterangi cahaya
engkau sinarkan
aku menaiki
tangga, mengawan
kecapi firdausi
melena telinga
menyentuh gambuh
dalam hatiku
Terlihat ke bawah
kandil kemerlap
melambai cempaka
ramai tertawa
hati duniawi
melambung tinggi
berpaling aku
turun kembali.
DOA POYANGKU
Poyangku rata
meminta sama
semoga sekali aku
diberi
memetik kecapi,
kecapi firdausi
menampar rebana,
rebana swarga
Poyangku rata
semua semata
penabuh bunyian
kerana suara
suara sunyi suling
keramat
kini rebana di
celah jariku
tari tamparku
membangkit rindu
kucuba serentak
genta genderang
memuji kekasihku
di mercu lagu
Aduh, kasihan hatiku
sayang
alahai hatiku
tiada bahagia
jari menari doa
semata
tapi hatiku
bercabang dua.
TERBUKA BUNGA
Terbuka bunga
dalam hatiku !
kembang rindang
disentuh bibir kesturimu.
Melayah-layah
mengintip restu senyumanmu.
Dengan
mengelopaknya bunga ini, layulah
bunga lampau,
kekasihku.
Bunga sunting
hatiku, dalam masa mengembara
menanda dikau
Kekasihku ! inikah
bunga sejati yang tiadakan
layu ?
TAMAN DUNIA
Kau masukkan aku
ke dalam taman- dunia, kekasihku !
kaupimpin jariku,
kautunjukkan bunga tertawa, kuntum tersenyum.
kau tundukkan
huluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.
Kau gemalaikan di
pipiku rindu daun beldu melunak lemah.
Tercengang aku
takjob, terdiam.
berbisik engkau:
"Taman
swarga, taman swarga mutiara rupa".
Engkaupun lenyap.
Termanggu aku
gilakan rupa.
SEBAB DIKAU
Kasihkan hidup
sebab dikau
segala kuntum
mengoyak kepak
membunga cinta
dalam hatiku
mewangi sari dalam
jantungku
Hidup seperti
mimpi
laku lakon di
layar terkelar
aku pemimpi lagi
penari
sedar siuman
bertukar-tukar
Maka merupa di
datar layar
wayang warna
menayang rasa
kalbu rindu turut
mengikut
dua sukma
esa-mesra -
Aku boneka engkau
boneka
penghibur dalang
mengatur tembang
di layar kembang
bertukar pandang
hanya selagu,
sepanjang dendang
Golek gemilang
ditukarnya pula
aku engkau di
kotak terletak
laku boneka engkau
boneka
penyenang dalang
mengarak sajak.
KERANA KASIHMU
Kerana kasihmu
Engkau tentukan
sehari lima kali
kita bertemu
Aku inginkan
rupamu
kulebihi sekali
sebelum cuaca
menali sutera
Berulang-ulang
kuintai-intai
terus menerus
kurasa-rasakan
sampai sekarang
tiada tercapai
hasrat sukma
idaman badan
Pujiku dikau
laguan kawi
datang turun dari
datukku
di hujung lidah
engkau letakkan
piatu teruna di
tengah gembala
Sunyi sepi
pitunang poyang
tidak merentak
dendang dambaku
layang lagu tiada
melangsing
haram gemercing
genta rebana
Hatiku, hatiku
hatiku sayang
tiada bahagia
hatiku kecil
berduka raya
hilang ia yang
dilihatnya.
TETEPI AKU
Tersapu sutera
pigura
dengan nilam hitam
kelam
berpadaman lentera
alit
beratus ribu di
atas langit
Seketika sekejap
mata
segala ada menekan
dada
nafas nipis
berlindung guring
mati suara dunia
cahaya
Gugur badanku
lemah
mati api di dalam
hati
terhenti dawai
pesawat diriku
Tersungkum sujud
mencium tanah
Cahaya suci
riwarna pelangi
harum sekuntum
bunga rahsia
menyinggung daku
terhantar sunyi
seperti hauri
dengan kapaknya
Rupanya ia mutiara
jiwaku
yang kuselami di
lautan rasa
Gewang canggainya
menyentuh rindu
tetapi aku tiada
merasa...
PERMAINANMU
kau keraskan
kalbunya
bagi batu membesi
benar
timbul telangkaimu
bertongkat urat
ditunjang
pengacara petah fasih
Di hadapan lawanmu
tongkatnya
melingkar merupa ular
tangannya putih ,
putih penyakit
kekayaanmu nyata
terlihat terang
Kakasihmu
ditindasnya terus
tangan tapi
bersembunyi
mengunci bagi
pateri
kalbu ratu rat
rapat
Kau pukul
raja-dewa
sembilan cambuk
melecut dada
putera mula
penganti diri
pergi kembali ke
asal asli.
Bertanya aku
kekasihku
permainan engkau
permainkan
kau tulis kau
paparkan
kausampaikan
dengan lisan
Bagaimana aku
menimbang
kaulipu lipatkan
kau kelam kabutkan
kalbu ratu dalam
genggammu
Kau hamparkan
badan
di tubir bibir
penaka durjana
jadi tanda di hari
muka
Bagaimana aku
menimbang
kekasihku astana
sayang
ratu restu telaga
sempana
kekasihku mengunci
hati
bagi tali disimpul
mati.
HANYA SATU
Timbul niat dalam
kalbumu;
terban hujan,
ungkai badai
terendam karam
runtuh ripuk
tamanmu rampak
Manusia kecil
lintang pukang
lari terbang jatuh
duduk
air naik tetap
terus
tumbang bungkar
pokok purba
Teriak riuh/redam terbelam
dalam
gagap/gempita guruh
kilau kilat
membelah gelap
Lidah api
menjulang tinggi
Terapung naik jung
bertudung
tempat berteduh
nuh kekasihmu
bebas lepas lelang
lapang
di tengah gelisah,
swara sentosa
*
Bersemayam sempana
di jemala gembala
juriat jelita
bapaku iberahim
keturunan intan
dua cahaya
pancaran putera
berlainan bonda.
Kini kami bertikai
pangkai
di antara dua,
mana mutiara
jauhari ahli lalai
menilai
lengah langsung
melewat abad
Aduh, kekasihku
padaku semua tiada
berguna
hanya satu
kutunggu hasrat
merasa dikau dekat
rapat
serupa musa di
puncak tursina.
BARANGKALI
Engkau yang lena
dalam hatiku
akasa swarga
nipis-tipis
yang besar
terangkum dunia
kecil terlindung
alis
Kujunjung di atas
hulu
kupuji di pucuk
lidah
kupangku di lengan
lagu
kudaduhkan di
selendang dendang
Bangkit gunung
buka mata
mutiaramu
sentuh kecapi
firdausi
dengan jarimu
menirus halus
Biar siuman
dewi-nyanyi
gambuh asmara
lurus lampai
lemah ramping
melidah api
halus harum
mengasap keramat
Mari menari dara
asmara
biar terdengar
swara swarna
barangkali mati di
pantai hati
gelombang kenang
membanting diri.
MABUK
Ditayangan ombak
bujang bersela
dijunjung hulu
rapuh semata
dikipasi angin
bergurau senda
lupakan kelana
akan dirinya...
Dimabukkan harum
pecah terberai
diulikkan bujuk
rangkai-rinangkai
datanglah semua
mengungkai simpai
hatimu bujang
sekali bisai.
Bulan mengintai di
celah awan
bersemayam senyum
sayu-sendu
teja undur
perlahan-lahan
mukanya merah
mengandung malu.
Rumput rendah
rangkum-rinangkum
tibun embun turun
ke rumpun
lembah-lembah
menjunjung harum
mendatangkan kayal
bujang mencium.
Melur sekaki
dibuaikan sepoi
dalam cahaya rupa
melambai
pelik bunga
membawaku ragu
layu kupetik bunga
gemalai.
Bunga setangkai
gemelai permai
dalam tanganku
jatuh terserah
kelopak kupandang
sari kunilai
datanglah jemu
mengatakan sudah...
Bulan berbuni di
balik awan
taram-temaram
cendera cahaya
teja lari ke dalam
lautan
tinggallah aku
tiada berpelita.
DAGANG
Susahnya duduk
berdagang
tiada tempat
mengadukan duka
bondaku tuan selalu
terpandang
hendak berjumpa
apatah daya.
Terlihat-lihat
bonda merenung
rasa-rasa Bonda
mengeluh
mengenangkan nasib
tiada beruntung
luka penceraian
tiadakan sembuh.
Bondapun garing
seorang diri
hati luka tiada
berjampi
nangislah ibu
mengenangkan kami
rasakan tiada
berjumpa lagi.
Allah diseru
memohonkan restu
moga kami
janganlah piatu
aduh ibu, kemala
hulu
bukankah langit
tiada berpintu?
Sudahlah nasib
tiada bertemu
sudahlah untung
hendak piatu
bagaimana mengubah
janji dahulu
sudah diikat di
rahim ibu.
SUNYI
Kuketuk pintu
masaku muda
hendak masuk rasa
kembali
taman terkunci
dibelan pula
tinggallah aku
sunyi sendiri.
Kudatangi
gelanggang tempat menyebung
masa bujang tempat
beria
kulihat siku
singgung menyinggung
aku terdiri haram
disapa...
Teruslah aku
perlahan-lahan
sayu rayu hati
melipur
nangislah aku
tersedan-sedan
mendengarkan pujuk
duka bercampur.
Kudengar bangsi
memanggil-manggil
tersedu-sedu, dayu
mendayu
tersalah aku diri
terpencil
badan dilambung
gelombang rindu.
Duduklah aku
bertopang dagu
merenung kupu
mengecup bunga
lenalah aku
sementara waktu
dalam rangkum
kenangan lama.
Rupanya teja
serasa kulihat
suaramu dinda
rasakan kudengar
dinda bersandar
duduk bersikat
aku mengintip
ombak berpendar.
Imbau gelombang
menyembahkan lagu
kepada bibirmu
kesumba pati
fikiranku melayang
ke padang rindu
walaupun dinda
duduk di sisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar